Terima kasih wahai musuh

November 26, 2008 at 5:43 pm (tazkiyatun nafs) (, )

Syukran Ayyuha Al A’daa
(Terima kasih wahai musuh)

Hidup memang medan ujian. Setiap kita pasti mengalami kondisi buruk dan sempit sebagai bagian dari kehidupan. Termasuk kondisi-kondisi seperti dimusuhi, dibenci, dicaci, difitnah atau diperangi. Tak ada manusia yang suka dengan suasana-suasana hidup seperti itu. Karenanya, di antara perjalanan hidup yang paling buruk adalah saat kita melewati proses hidup yang melahirkan musuh, mendatangkan kebencian, mengundang caci maki, atau mengobarkan perang. Masalahnya, perjalanan hidup ini mengajarkan, bahwa dimusuhi, dibenci, dicaci, dan segala bentuknya juga mempunyai hikmah.
Karena sebenarnya banyak sekali manfaat keberadaan musuh ini bagi kita yaitu seperti yang dipaparkan oleh Salman bin Fahd Al Audah yaitu diantaranya:
1. “Terima kasih wahai musuh” kalianlah yang menjadikanku sadar untuk mengendalikan diri dan tidak hanyut dalam gelombang pujian. Kalian dijadikan Allah SWT agar aku tidak menjadi sombong akibat pujian berlebihan, atau anggapan baik yang hanya melihat kebaikan dari diriku.
2. “Terima kasih wahai musuh” bagaimanapun kalian memberi manfaat kepadaku, meskipun sebenarnya, kalian tidak mau melakukan itu. Kalian telah menciptakan kemampuan untuk berpikir lebih seimbang dan adil. Mungkin ada seseorang yang berlebihan menunaikan haknya, lalu kalianlah yang menjadi sebab keseimbangan.
3. “Terima kasih wahai musuh” kalianlah yang menerbitkan semangat, meletakkan tantangan, membuka kecermatan, mendorong untuk berkompetisi, agar seseorang bisa lebih berhati-hati, lebih disiplin, lebih cermat mendidik diri, dan menghiasi diri untuk memiliki sikap yang terpuji. Berlomba dan berkompetisi dalam kebaikan adalah prilaku yang dianjurkan dalam Islam.
4. “Terima kasih wahai musuh” kalianlah yang melatih kami untuk mampu lebih bersabar dan lebih kuasa menanggung beban. Kalianlah yang menbantu kami untuk lebih bias menghadapi keburukan dengan kebaikan.
5. “Terima kasih wahai musuh” mungkin dalam timbangan amal ada kebaikan yang tidak bias aku peroleh hanya dengan kebaikan dan amal shalih, tapi hanya bisa diperoleh melalui kesabaran, menanggung beban, keridhaan, bias menerima, toleransi dan maaf.
6. “Terima kasih wahai musuh” aku merasa mungkin ada sebagian kata yang menyakiti kalian. Sungguh saya tidak bermaksud menyakiti kalian. Tapi saya katakan dengan sejujurnya, kalian adalah teman-teman sejati.
7. “Terima kasih wahai musuh” kalianlah yang telah menjadikanku lebih memikirkan kekurangan yang selama ini justru sulit teraba.
8. “Terima kasih wahai musuh” dengan ungkapan yang tegas, jelas, bahkan mungkin kasar, kalian bisa langsung mengarahkan nasehat yang sangat mengena di dalam hati sehingga aku bisa lebih berhati-hati melakukan apapun.
9. “Terima kasih wahai musuh” melalui cacian dan makianmu, boleh jadi aku justru terbebas dari belenggu syaithan yang ingin menjerumuskanku dalam sifat buruk yang kalian sampaikan dan mungkin saja aku terjerumus di dalamnya dan seterusnya.
Jika kita telah yakin berada di jalan yang benar, kita tidak perlu khawatir dan takut dengan permusuhan atau kebencian yang muncul.
Semua ini membuktikan bahwa memiliki musuh tidaklah buruk. Memiliki musuh berarti ada lawan yang harus dikalahkan, ada rival yang mesti ditaklukkan. Memiliki musuh akan membuat kita berpikir mengenai teknik ataupun strategi apa yang akan dijalankan, kapan menyerang, dan kapan bertahan. Memiliki musuh akan timbul harapan dan perjuangan untuk mencapai keberhasilan. Bukankah kalo mau hidup aman, kita harus siap untuk berperang? Ingat juga, bahwa musuh ada yang nyata, dan ada yang tidak nyata. Setan melalui godaannya adalah musuh yang tidak nyata. Tapi itu menjadi musuh utama. Hawa nafsu, amarah, dan keinginan bertindak salah juga musuh yang juga harus ditaklukkan.
Ini hanya bagian dari kehidupan yang harus kita hadapi. Tapi bukan berarti kita justru menciptakan permusuhan dan mengundang perselisihan. Kita hanya wajib berpegang pada sesuatu yang kita yakini kebenarannya di sisi Allah SWT, itu saja!!!

http://dinioktorina.blogspot.com/

Permalink 4 Comments

Ibnu Khaldun : sang ilmuwan

November 26, 2008 at 5:40 pm (keilmuan) ()

Dunia mendaulatnya sebagai `Bapak Sosiologi Islam’. Sebagai salah seorang pemikir hebat dan serba bisa sepanjang masa, buah pikirnya amat berpengaruh. Sederet pemikir Barat terkemuka, seperti Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Robert Flint, Arnold J Toynbee, Ernest Gellner, Franz Rosenthal, dan Arthur Laffer mengagumi pemikirannya.

Tak heran, pemikir Arab, NJ Dawood menjulukinya sebagai negarawan, ahli hukum, sejarawan dan sekaligus sarjana. Dialah Ibnu Khaldun, penulis buku yang melegenda, Al-Muqaddimah. Ilmuwan besar yang terlahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H itu memiliki nama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad Ibn Khaldun Al-Hadrami Al-Ishbili. Nenek moyangnya berasal dari Hadramaut (Yaman) yang bermigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad ke-8 M, setelah semenanjung itu ditaklukan Islam.

Setelah Spanyol direbut penguasa Kristen, keluarga besar Ibnu Khaldun hijrah ke Maroko dan kemudian menetap di Tunisia. Di kota itu, keluarga Ibnu Khaldun dihormati pihak istana dan tinggal di lahan milik dinasti Hafsiah. Sejak terlahir ke dunia, Ibnu Khaldun sudah hidup dalam komunitas kelas atas.

Ibnu Khaldun hidup pada masa peradaban Islam berada diambang degradasi dan disintegrasi. Kala itu, Khalifah Abbasiyah di ambang keruntuhan setelah penjarahan, pembakaran, dan penghancuran Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol pada tahun 1258, sekitar tujuh puluh lima tahun sebelum kelahiran Ibnu Khaldun.

Guru pertama Ibnu Khaldun adalah ayahnya sendiri. Sejak kecil, ia sudah menghafal Alquran dan menguasai tajwid. Selain itu, dia juga menimba ilmu agama, fisika, hingga matematika dari sejumlah ulama Andalusia yang hijrah ke Tunisia. Ia selalu mendapatkan nilai yang memuaskan dalam semua bidang studi.

Studinya kemudian terhenti pada 749 H. Saat menginjak usia 17 tahun, tanah kelahirannya diserang wabah penyakit pes yang menelan ribuan korban jiwa. Akibat peristiwa yang dikenal sebagai Black Death itu, para ulama dan penguasa hijrah ke Maghrib Jauh (Maroko).

Ahmad Syafii Maarif dalam bukunya Ibn Khaldun dalam pandangan Penulis Barat dan Timur memaparkan, di usia yang masih muda, Ibnu Khaldun sudah menguasi berbagai ilmu Islam klasik seperti filsafat, tasawuf, dan metafisika. Selain menguasai ilmu politik, sejarah, ekonomi serta geografi, di bidang hukum, ia juga menganut madzhab Maliki.

Sejak muda, Ibnu Khaldun sudah terbiasa berhadapan dengan berbagai intrik politik. Pada masa itu, Afrika Utara dan Andalusia sedang diguncang peperangan. Dinasti-dinasti kecil saling bersaing memperebutkan kekuasaan, di saat umat Islam terusir dari Spanyol. Tak heran, bila dia sudah terbiasa mengamati fenomena persaingan keras, saling menjatuhkan, saling menghancurkan.

Di usianya yang ke-21, Ibnu Khaldun sudah diangkat menjadi sekretaris Sultan Al-Fadl dari Dinasti Hafs yang berkedudukan di Tunisia. Dua tahun kemudian, dia berhenti karena penguasa yang didukungnya itu kalah dalam sebuah pertempuran. Ia lalu hijrah ke Baskarah, sebuah kota di Maghrib Tengah (Aljazair).

Ia berupaya untuk bertemu dengan Sultan Abu Anam, penguasa Bani Marin dari Fez, Maroko, yang tengah berada di Maghrib Tengah. Lobinya berhasil. Ibnu Khaldun diangkat menjadi anggota majelis ilmu pengetahuan dan sekretaris sultan setahun kemudian. Ia menduduki jabatan itu selama dua kali dan sempat pula dipenjara. Ibnu Khaldun kemudian meninggalkan negeri itu setelah Wazir Umar bin Abdillah murka.

Ia kemudian terdampar di Granada pada 764 H. Sultan Bani Ahmar menyambut kedatangannya dan mempercayainya sebagai duta negar di Castilla, sebuah kerajaan Kristen yang berpusat di Seville. Tugasnya dijalankan dengan baik dan sukses. Namun tak lama kemudian, hubungannya dengan Sultan kemudian retak.

Dua tahun berselang, jabatan strategis kembali didudukinya. Penguasa Bani Hafs, Abu Abdillah Muhammad mengangkatnya menjadi perdana menteri sekaligus, khatib dan guru di Bijayah. Setahun kemudian, Bijayah jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, gubernur Qasanthinah (sebuah kota di Aljazair). Ibnu Khaldun lalu hijrah ke Baskarah.

Ia kemudian berkirim surat kepada Abu Hammu, sultan Tilmisan dari Bani Abdil Wad yang isinya akan memberi dukungan. Tawaran itu disambut hangat Sultan dan kemudian memberinya jabatan penting. Iming-iming jabatan itu ditolak Ibnu Khaldun, karena akan melanjutkan studinya secara otodidak. Ia bersedia berkampanye untuk mendukung Abu Hammu. Sikap politiknya berubah, tatkala Abu Hammu diusir Sultan Abdul Aziz.

Ibnu Khaldun kemudian berpihak kepada Abdul Aziz dan tinggal di Baskarah. Tak lama kemudian, Tilmisan kembali direbut Abu Hammu. Ia lalu menyelamatkan diri ke Fez, Maroko pada 774. Saat Fez jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, ia kembali pergi ke Granada buat yang kedua kalinya. Namun, penguasa Granada tak menerima kehadirannya.

Ia balik lagi ke Tilmisan. Meski telah dikhianati, namun Abu Hammu menerima kehadiran Ibnu Khaldun. Sejak saat itulah, Ibnu Khaldun memutuskan untuk tak berpolitik praktis lagi. Ibnu Khaldun lalu menyepi di Qa’lat Ibnu Salamah dan menetap di tempat itu sampai tahun 780 H. Dalam masa menyepinya itulah, Ibnu Khaldun mengarang sejumlah kitab yang monumental.

Di awali dengan menulis kitab Al-Muqaddimah yang mengupas masalah-masalah sosial manusia, Ibnu Khaldun juga menulis kitab Al-`Ibar (Sejarah Umum). Pada 780 H, Ibnu Khaldun sempat kembali ke Tunisia. Di tanah kelahirannya itu, ia sempat merevisi kitab Al’Ibar.

Empat tahun kemudian, ia hijrah ke Iskandaria (Mesir) untuk menghindari kekisruhan politik di Maghrib. Di Kairo, Ibnu Khaldun disambut para ulama dan penduduk. Ia lalu membentuk halaqah di Al-Azhar. Ia didaulat raja menjadi dosen ilmu Fikih Mazhab Maliki di Madrasah Qamhiyah. Tak lama kemudian, dia diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan.

Ibnu Khaldun sempat mengundurkan diri dari pengadilan kerajaan, lantaran keluarganya mengalami kecelakaan. Raja lalu mengangkatnya lagi menjadi dosen di sejumlah madrasah. Setelah menunaikan ibadah haji, ia kembali menjadi ketua pengadilan dan kembali mengundurkan diri. Pada 803 H, dia bersama pasukan Sultan Faraj Barquq pergi ke Damaskus untuk mengusir Timur Lenk, penguasa Mogul.

Berkat diplomasinya yang luar biasa, Ibnu Khaldun malah bisa bertemu Timur Lenk yang dikenal sebagai penakluk yang disegani. Dia banyak berdiskusi dengan Timur. Ibnu Khaldun, akhirnya kembali ke Kairo dan kembali ditunjuk menjadi ketua pengadilan kerajaan. Ia tutup usia pada 25 Ramadhan 808 H di Kairo. Meski dia telah berpulang enam abad yang lalu, pemikiran dan karya-karyanya masih tetap dikaji dan digunakan hingga saat ini.

***

Al-Muqaddimah Karya yang Abadi

Setelah mundur dari percaturan politik praktis, Ibnu Khaldun bersama keluarganya menyepi di Qal’at Ibn Salamah istana yang terletak di negeri Banu Tajin selama empat tahun. Selama masa kontemplasi itu, Ibnu Khaldun berhasil merampungkan sebuah karya monumental yang hingga kini masih tetap dibahas dan diperbincangkan.

`’Dalam pengunduran diri inilah saya merampungkan Al-Muqaddimah, sebuah karya yang seluruhnya orisinal dalam perencanaannya dan saya ramu dari hasil penelitian luas yang terbaik,” ungkap Ibnu Khaldun dalam biografinya yang berjudul Al-Ta’rif bi Ibn-Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Sharqan. Buah pikir Ibnu Khaldun itu begitu memukau. Tak heran, jika ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee menganggap Al-Muqaddimah sebagi karya terbesar dalam jenisnya sepanjang sejarah.

Menurut Ahmad Syafii Ma’arif, salah satu tesis Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah yang sering dikutip adalah: `’Manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tapi adalah produk kebiasaan-kebiasaan sosial.” Secara garis besar, Tarif Khalidi dalam bukunya Classical Arab Islam membagi Al-Muqaddimah menjadi tiga bagian utama .Pertama, membicarakan histografi mengupas kesalahan-kesalahan para sejarawan Arab-Muslim.

Kedua, Al-Muqaddimah mengupas soal ilmu kultur. Bagi Ibnu Khaldun, ilmu tersebut merupakan dasar bagi pemahaman sejarah. Ketiga, mengupas lembaga-lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14. Meski hanya sebagai pengantar dari buku utamanya yang berjudul Al-`Ibar, kenyataannya Al-Muqaddimah lebih termasyhur. Pasalnya, seluruh bangunan teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah termuat dalam kitab itu. Dalam buku itu Ibnu Khaldun diantara menyatakan bahwa kajian sejarah haruslah melalui pengujian-pengujian yang kritis.

`’Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng,” papar Syafii Ma’arif. Bermodalkan pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Almuqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial.

Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, lewat Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; `’Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk soisal berubah dan berkembang.”

Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi keintelektualan positivisme Barat metode penelitian ilmu pernah dikemukakan pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun (1332-1406).

Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. `’Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial,” papar Ilmuwan asal Jerman, Heinrich Simon.

hri-republika

Permalink Leave a Comment

Proud to be Muslimah

November 26, 2008 at 5:34 pm (Uncategorized) (, , )

“Dunia adalah perhiasan, dan seindah-indah perhiasan adalah wanita shalihah” (HR Muslim)

Kalau dibilang dunia itu perhiasan, sepakat kan? Betapa indahnya dunia dipandang mata, lautan yang terhampar luas, kilauan matahari, untaian gunung-gunung, sungai yang mengalir deras, air tejun yang tinggi, hujan mengguyur bumi, pelangi dengan bias-bias spektrum warnanya. Subhanallah…
Tapi ada lagi yang Allah ciptakan sebagai perhiasan terbaik, yaitu wanita shalihah!
Berarti pesona emas, berlian, permata, zamrud dan logam-logam mulia lainnya kalah tanding dengan wanita shalihah itu. Hmm, kok bisa ya?
Iya, tentu saja sebab wanita shalihah berarti wanita yang patuh pada Allah dan RasulNya. Wanita shalihah mencintai Allah melebihi apapun di dunia ini. Ia selalu mencari jalan yang paling di ridhai Allah dalam setiap langkahnya. Ia bukan wanita sembarangan. Ia selalu menjaga kehormatannya. Ia bangga dengan kemuslimahannya. Tak ragu ia menunjukkan identitasnya sebagai muslimah. Karena ia memegang prinsip yang teguh.

“Dan janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3 : 139).

Muslimah, selama kita menjaga keimanan dalam diri kita, maka jangan bersikap lemah. Sebab muslimah itu tinggi derajatnya dihadapan Allah jika ia beriman.

Ada kisah dari tanah papua, seorang sahabat saya dan ketiga temannya saat itu masih kelas 3 SMA. Suatu hari mereka ngobrol dan sama-sama mengutarakan niat untuk berjilbab. Subhanallah, nggak disangka niat itu muncul bersamaan. Masing-masing mereka sudah lama memendam rasa untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslimah rupanya, namun selalu terhalang dengan adat di sana yang serba terbuka dan mayoritas non muslim. Namun tekad sudah bulat, jilbab pun mereka balutkan menutupi kepala mereka, dengan baju panjang satu-satunya, yang harus dipakai setiap hari ke sekolah.

Sayangnya,baru beberapa hari kepala sekolah dan guru-guru mereka kemudian mengetahui hal itu dan segera menegur mereka. Dalam sekolah yang mayoritas non muslim itu ternyata begitu sulitnya mereka menunaikan kewajiban sebagai muslimah. Tekanan dan hinaan mereka terima, termasuk dari teman-teman. bahkan diancam keluar dari sekolah, padahal ujian nasional saat itu tinggal beberapa bulan lagi. Akhirnya dengan berat hati mereka melepas jilbab itu, hanya ketika memasuki gerbang sekolah. Begitu keluar, dengan senangnya mereka bisa menggunakan jilbabnya lagi. Sedih rasanya dikekang dan dilarang seperti itu.
Sampai suatu ketika ada teman mereka yang berkata,” sok suci kalian, pengetahuan agama saja belum banyak!”. “Ya Allah… begitukah caranya Engkau memicu semangat kami untuk lebih giat mencari ilmu tentang Islam dan mendekatkan diri padaMu?” batin mereka. Hingga mereka malah semakin semangat untuk belajar islam lebih jauh, tanpa meninggalkan kewajiban berjilbab.
Ketika ujian nasional tiba, tak disangka. Keempat muslimah yang baru berjilbab ini adalah 4 orang yang paling berhasil! Merekalah yang justru bisa masuk ke PTN2 favorit, dan mengharumkan nama sekolah. Sedangkan yang lainnya tidak seberuntung mereka. Subhanallah… Disinilah kehendak Allah ada.
Allah akan menolong hambaNya yang teguh menjalankan perintahNya, yang berjuang untuk istiqomah. Allah mencintai dan meridhai muslimah yang bangga dengan keislamannya dan beramal untuk Islam.
Muslimah, Islam itu tinggi, maka tinggikanlah! ^_^

Permalink 1 Comment

DAFTAR PEJABAT NEGARA TERKAYA DI INDONESIA

July 19, 2008 at 2:46 pm (nusantara) ()

Daftar 25 Pejabat Negara Terkaya di Indonesia

Untuk pejabat negara di pimpin oleh Ical dengan Bakrie Grupnya disusul oleh
Yusuf Kalla dengan Kalla Interprisenya, sedangkan pejabat pemerintah daerah
khususnya gubernur terkaya, ditempati Rudolf Pardede, Gubernur Provinsi
Sumatera Utara (Sumut). Tercatat dalam LHKPN, Rudolf yang juga mantan
anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat ini banyak memiliki harta kekayaan
berupa logam/ batu mulia dan barang seni/ antik senilai di atas Rp100
milyar. Secara keseluruhan, Rudolf telah memiliki kekayaan sekitar Rp298
milyar atau hampir sepertiga dari kekayaan Ical. Sedangkan untuk gubernur
termiskin diantara yang lain dipegang oleh Gubernur Sumatera Barat Gamawan
Fauzi.

25 PEJABAT NEGARA TERKAYA

1 Aburizal Bakrie Menteri Koord. Kesra = Rp. 994,349,061, 983 Thn 2005

2 Muhammad Jusuf Kalla Wakil Presiden = Rp. 134,265,037, 046 Thn 2005

3 Fahmi Idris Menteri Perindustrian = Rp. 85,279,605,847 Thn 2006

4 Meutia Hatta S. Meneg. Pbdy. Perempuan = Rp. 38,459,989,300 Thn 2004

5 Agung Laksono Ketua DPR = Rp. 16,418,293,000 Thn 2001

6 Jero Wacik Menteri Kebudayaan & Pariwisata = Rp. 15,561,250,000 Thn 2004

7 Mari Elka Pangestu Menteri Perdagangan = Rp. 15,142,939,762 Thn 2004

8 Boediono Menteri Koordinator Perekonomian = Rp. 14,046,878,563 Thn 2004

9 M. Yusuf Asy’ari Meneg. Perumahan Rakyat = Rp. 13,232,400,000 Thn 2004 10
Adhyaksa Dault Meneg. Pemuda & Olahraga = Rp. 12,578,026,320 Thn 2004

11 Bambang Sudibyo Mendiknas = Rp. 12,489,646,528 Thn 2004

12 Anwar Nasution Ketua BPK = Rp. 11,968,769,205 Thn 2001

13 Sofyan Djalil Menteri Negara BUMN = Rp. 10,857,373,418 Thn 2007

14 Hatta Rajasa Menteri Sekretaris Negara = Rp. 9,727,063,000 Thn 2004

15 M Maftuh Basyuni Menteri Agama = Rp. 8,907,602,000 Thn 2004

16 Purnomo Yusgiantoro Menteri Energi & SDM = Rp. 7,623,418,134 Thn 2004

17 Sri Mulyani Menteri Keuangan = Rp. 7,376,539,461 Thn 2006

18 Paskah Suzetta Meneg./Ketua Bapenas = Rp. 6,963,214,000 Thn 2006

19 Jenderal (Pol) Sutanto Kepala POLRI = Rp. 5,931,696,900 Thn 2006 20
Rachmat Witoelar Meneg.Lingkungan Hidup = Rp. 5,758,178,340 Thn 2004

21 Juwono Sudarsono Menteri Pertahanan = Rp. 5,661,800,000 Thn 2004

22 Erman Suparno Menteri Tenaga Kerja&Trans. = Rp. 5,510,185,751 Thn 2006

23 Hassan Wirajuda Menteri Luar Negeri = Rp. 5,101,987,654 Thn 2004

24 Siti Fadilah Supari Menteri Kesehatan = Rp. 4,738,300,000 Thn 2004

25 Susilo Bambang Yudhoyono Presiden 4,652,069,796 Thn 2004

25 GUBERNUR TERKAYA

No Nama Lembaga Total TBN

1 Rudolf Mazvoka Pardede Gubernur Sumut = Rp. 298,740,200, 000 Thn 2001

2 Fadel Muhammad Gubernur Provinsi Gorontalo = Rp. 149,752,933, 448 Thn 2002

3 Zulkifli Gubernur Provinsi Jambi = Rp. 58,888,946,621 Thn 2004

4 Fauzi Bowo Gubernur Provinsi DKI Jakarta = Rp. 33,801,168,988 Thn 2006

5 Anwar Adnan Saleh Gubernur Sulawesi Barat = Rp. 30,287,981,975 Thn 2002

6 Sri Sultan Hamengkubuwono X Gubernur DIY= Rp. 20,184,763,982 Thn 2001

7 Ratu Atut Chosiyah Gubernur Banten = Rp. 17,810,707,822 Thn 2002

8 Agusrin Nadzamudin Gubernur Bengkulu = Rp. 12,350,448,400 Thn 2005

9 Agustin Teras Narang Gubernur Kalteng = Rp. 9,427,930,752 Thn 2004

10 Imam Utomo S Gubernur Jawa Timur = Rp. 6,616,092,638 Thn 2001

11 Danny Setiawan Gubernur Jawa Barat = Rp. 4,432,340,226 Thn 2001

12 Syahrial Oesman Gubernur Sumatera Selatan = Rp. 3,758,042,878 Thn 2005

13 Ismeth Abdullah Gubernur Kepulauan Riau = Rp. 3,697,058,000 Thn 2005

14 Karel Albert Ralahalu Gubernur Maluku = Rp. 3,511,005,232 Thn 2004

15 Piet Alexander Tallo Gubernur NTT = Rp. 3,306,801,297 Thn 2005

16 Rudi Arifin Gubernur Kalimantan Selatan = Rp. 2,409,211,550 Thn 2007

17 M Rusli Zainal Gubernur Provinsi Riau = Rp. 2,365,623,114 Thn 2002

18 S. H. Sarundajang Gubernur Sulawesi Utara = Rp. 2,350,767,000 Thn 2001

19 Eko Maulana Ali Gubernur Kep. Ba-Bel = Rp. 2,299,600,000 Thn 2006

20 Suwarna A.F. Gubernur Kalimantan Timur = Rp. 2,257,243,186 Thn 2001

21 M. Amin Syam Gubernur Sulawesi Selatan = Rp. 1,775,973,000 Thn 2001

22 Sjachroedin ZP Gubernur Lampung = Rp. 1,495,500,000 Thn 2003

23 Dewa Made Beratha Gubernur Bali = Rp. 1,320,726,894 Thn 2001

24 Lalu Serinata Gubernur NTB = Rp. 740,224,387 Thn 2002

25 Gamawan Fauzi Gubernur Sumatera Barat = Rp. 667,140,890 Thn 2001

25 BUPATI TERKAYA

No Nama Kabupaten Total TBN

1 Rina Iriani S. R. Bupati Karanganyar = Rp. 55,945,062,244 Thn 2005

2 Untung Sarono W Sukarno Bupati Sragen = Rp. 33,474,528,000 Thn 2002

3 Begug Poernomosidi Bupati Wonogiri = Rp. 28,780,000,000 Thn 2005

4 Ujang Iskandar Bupati Kotawaringin Barat = Rp. 21,789,880,000 Thn 2005

5 I Wayan Geredeg Bupati Karang Asem = Rp. 19,388,721,000 Thn 2005

6 Probo Yulastoro Bupati Cilacap = Rp. 16,082,077,852 Thn 2006

7 Monang Sitorus Bupati Samosir = Rp. 14,181,360,308 Thn 2005

8 Masfuk Bupati Lamongan = Rp. 11,200,711,889 Thn 2005

9 Endang Setyaningdyah Bupati Demak = Rp. 10,830,604,216 Thn 2005

10 Syaukani HR Bupati Kutai Kartanegara = Rp. 10,304,683,430 Thn 2004

11 Putu Bagiada Bupati Buleleng = Rp. 10,212,680,000 Thn 2006

12 AA. Sampurna Jaya Bupati Lampung Tengah = Rp. 10,076,500,000 Thn 2005

13 Sutrisno Bupati Pacitan = Rp. 10,040,249,782 Thn 2002

14 RM Luntungan Bupati Minahasa Selatan = Rp. 8,810,000,000 Thn 2005

15 Zulkifli Anwar Bupati Lampung Selatan = Rp. 8,481,877,000 Thn 2005

16 Basuki Tjahaja Purnama Bupati Belitung Timur = Rp. 8,365,669,968 Thn 2005

17 Ongku P Hasibuan Bupati Tapanuli Selatan = Rp. 8,222,024,000 Thn 2005

18 Abdullah Tuasikal Bupati Maluku Tengah = Rp. 8,180,050,712 Thn 2006

19 Aang Hamid Suganda Bupati Kuningan = Rp. 7,437,194,454 Thn 2005

20 Robbach Ma’sum Bupati Gresik = Rp. 6,756,637,188 Thn 2005

21 Ferry Zulkarnain Bupati Bima = Rp. 6,542,500,000 Thn 2004

22 Wahyudi K Anwar Bupati Kotawaringin Timur = Rp. 6,525,301,577 Thn 2005

23 Ratna Ani Lestari Bupati Banyuwangi = Rp. 6,020,500,000 Thn 2003

24 A. Dimyati Natakusumah Bupati Pandeglang = Rp. 5,966,675,000 Thn 2002

25 Zulfikar Achmad Bupati Bungo = Rp. 5,865,101,600 Thn 2003

25 WALIKOTA TERKAYA

No Nama Kota Total TBN

1 Sukawi Sutarip Walikota Semarang = Rp. 39,300,213,246 Thn 2005

2 Herry Zudianto Walikota Yogyakarta = Rp. 18,000,964,573 Thn 2003

3 Joko Widodo Walikota Surakarta = Rp. 9,829,421,400 Thn 2005

4 Rachman Djalili Walikota Prabumulih = Rp. 8,336,041,877 Thn 2005

5 Sofyan Hasdam Walikota Bontang = Rp. 7,808,866,349 Thn 2005

6 Rudy Resnawan Walikota Banjar Baru = Rp. 7,698,218,221 Thn 2005

7 Abdillah Walikota Medan = Rp. 7,513,608,000 Thn 2005

8 Herman Abdullah Walikota Pekan Baru = Rp. 6,677,423,789 Thn 2005

9 Aat Syafa’at Walikota Cilegon = Rp. 5,934,956,835 Thn 2005

10 Sutrisno Hadi Walikota Tanjung Balai = Rp. 5,820,789,178 Thn 2005

11 M Ali Umri Walikota Binjai = Rp. 4,655,402,291 Thn 2002

12 A Dadang Kafrawi Walikota Jakarta Selatan = Rp. 4,363,306,373 Thn 2005

13 Medi Botutihe Walikota Gorontalo = Rp. 4,108,761,533 Thn 2001

14 Fajar Panjahitan Walikota Jakarta Barat = Rp. 3,929,610,559 Thn 2005

15 M Effendi Anas Walikota Jakarta Utara = Rp. 3,913,579,707 Thn 2005

16 M Itoc Tochija Walikota Cimahi = Rp. 3,216,350,000 Thn 2006

17 Abdul Hafiz Hasibuan Walikota Tebing Tinggi = Rp. 2,809,590,000 Thn 2005

18 Imdaad Hamid Walikota Balikpapan = Rp. 2,800,352,783 Thn 2006

19 Mansyur M Abunawas Walikota Kendari = Rp. 2,541,777,000 Thn 2001

20 J.A Jumame Walikota Sorong = Rp. 2,502,907,024 Thn 2003

21 Awang Ishak Walikota Singkawang = Rp. 2,502,502,288 Thn 2003

22 Andi P Tenriadjeng Walikota Palopo = Rp. 2,460,803,952 Thn 2003

23 Arifin Manap Walikota Jambi = Rp. 2,429,565,192 Thn 2002

24 Kusnan Walikota Jakarta Timur = Rp. 2,288,144,588 Thn 2005

25 Buchary Abdurahman Walikota Pontianak = Rp. 2,251,196,000 Thn 2002

Sumber: Dokumen Tambahan Berita Negara (TBN) LHKPN KPK kurun waktu 2001 -
2007

Permalink 1 Comment